About

Sabtu, 20 Februari 2016

SELF DRIVING

SELF DRIVING
Anak Desa

           Sejak lahir manusia diberi “ Kendaraan “ yang kita sebut dengan “ Self ” .Hanya dengan self driving,manusia bisa mengembangkan semua potensinya dan mencapai sesuatu yang tak pernah terbayangkan. Sedangkan mentalitas “Passenger” yang ditanam sejak kecil,dan diberikan para eksekutif,hanya akan menghasilkan keluhan dan keterbelengguan.dengan kata lain hal-hal yang ditanamkan sejak dari kecil hendaknya kita kembangkan terus menerus sampai saat kita dewasa nanti dan menjadi seorang pemimpin bagi keluarga ataupun Negara.namun akan tetapi dikalangan remaja saat ini sulit sekali yang namanya menghilangkan “Passenger” yaitu kecendrungan akan selalu menjadi penumpang dengan selalu mengikuti yang ada didepannya. Para Passenger ini tidak mau untuk menjadi Driver dikarenakan pada zona ini manusia sudah terlalu nyaman dan malas untuk melakukannya sendiri,cenderung harus diperintah baru mengerjakan tidak ada inisiatif untuk memulainya duluan dan takut untuk melakukan kesalahan.padahal hal seperti ini harus kita buang jauh-jauh dari pikiran dan sikaf kita jika ingin menjadi seorang Driver.
            Beberapa hal yang penting dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi seorang “Driver” bagi diri kita dan “Driver” bagi orang lain jangan selalu menjadi “Passenger” yang berada dibelakang Driver terus-menerus sesekali kita harus bisa menjadi Driver yang bisa diikuti oleh orang lain.berikut hal-hal yang harus diingat:……!!!!
1.   Sesuatu yang ada dalam dirimu itulah kendaraanmu.Ia telah menjelma menjadi kekuatan mencipta berkarya,berprestasi atau berkreasi.Kita menyebutnya sebagai gabungan antara kompetensi ( what you can do),kecekatan ( how agile you are),dan perilaku (your attidute your gesture).
1. Driver adalah sebuah sikaf hidup yang membedakan dirinya dengan “passenger”Anda tinggal memilih ingin duduk manis,menjadi penumpang dibelakang,atau mengambil resiko sebagai di depan ?
1.Seorang Driver tidak cukup hanya bermodalkan tekad dan semangat,ia butuh referensi dari pengetahuan akademis.
1.Saya Berpikir,selama saya sekolah,pastilah bukan hanya ilmu buku yang saya dapatkan.saya memilih untuk melakukan perubahan.
1.Padahal karier kita adalah tanggung jawab kita,dan mereka yang mengambil inisiatif untuk berganti kuadran di usia 40-50an adalah sama dengan belajar kembali.
1. Pilihan yang dipaksakan bias berujung kegalauan,sedangkan pilihan yang sukarela berujung pada kesadaran untuk keluar dari zona nyaman.
1. Sebab,bagi seorang passenger yang kariernya sudah tak berkembang lagikalau diikuti dengan ketidakpuasan terus-menerus,besar kemungkinan menjadi toxic employee,bad passenger - alias pegawai yang tersakiti sekaligus “sakit”dan menyulitkan orang lain
1.Salah satu persoalan berat yang dihadapi bangsa ini dalam menghadapi perubahan ialah rendahnya kemampuan kita untuk keluar dari Comfort Zone.

0 komentar:

Posting Komentar